Lingkungan hidup bakteri di alam sangat bervariasi, di air, tanah, air panas, bahan organik, permukaan tubuh makluk hidup, dan bahkan dalam tubuh makluk hidup. Dalam lingkungan tersebut mikrooganiosme salaing berinteraksi, dan bentuk interaksinya sangat bervariasi dan beragam. Interaksi tersebut membentuk komunitas yang didalamnya berlangsung serangkaian reaksi dalam proses tranfer energi.
Salah satu interaksi yang terjadi adalah Spirochaeta dengan protozoa yang hidup dalam usus rayap. Rayap merupakan serangga yang makanannya berupa kayu yang mengandung sellulosa, hemisellulosa, dan lignin. Bahan tersebut tidak dapat dirombak oleh rayap karena ketiadaan enzim hidrolitik. Adanya protozoa (misalnya Trichomonas termopsidis, flagellata yang hidup pada caecum rayap) komponen kayu tersebut dapat dihidrolisis menjadi monomer yang dapat digunakan oleh rayap. Sebaliknya bagi protozoa tersebut bisa mendapatkan ruang dan sumber C dari rayap.
Protozoa yang menghuni usus rayap tidaklah bekerja sendirian tetapi melakukan simbiosis mutualisme dengan sekelompok bakteri. Flagella yang dimiliki oleh protozoa tersebut ternyata adalah sederetan sel bakteri yang tertata dengan baik sehingga mirip flagella pada protozoa umumnya. Bakteri yang menyusun flagella memberikan motilitas pada protozoa untuk mendekati sumber makanan, sedangkan ia sendiri menerima nutrien dari protozoa. Contoh genus bakteri ini adalah Spirochaeta.
Beberapa bakteri yang menghuni usus rayap juga diketahui dapat menghasilkan factor tumbuh berupa vitamin B yang dapat digunakan oleh rayap, seperti spesies Enterobacter agglomerans, mampu melakukan fiksasi nitrogen (Atlas % Bartha 1998). Beberapa metanogen juga ditemukan sebagai endosimbion pada beberapa protozoa pada serangga.
| |
|